Gadis itu berjalan di depanku, dengan jilbab tipis mungilnya sebatas menutupi pundak, serta celana jins pas kaki kesayangannya. Sudah lama ia kukenal, 2-3 tahun yang lalu. Teman-temannya adalah akhawat-akhawat berjilbab lebar yang dengan mudah kutemukan tiap waktu shalat di Salman. Dan diapun selalu ada di sana bersama mereka. Bahkan lebih sering kulihat dibanding yang lainnya. Teman-teman dekatnya itu adalah aktivis KM, Salman, HMTL, yang punya idealisme da’wah dan pribadinya sendiri-sendiri, teman-temannya adalah orang-orang idealis dengan karakter kuat, dan tentu saja, banyak rapat!. Gadis ini? Dia beraktivitas sederhana, jika diminta. Biasanya untuk jabatan sekretaris atau bendahara, itupun “hanya” di level himpunan dan LDD.
Sejak pagi kemarin aku bersamanya. Pagi itu aku berjalan agak cepat, karena sudah terlambat 30 menit. Sampai disana ia sudah menunggu dengan senyumnya, tak memarahi, tak mengeluh. Ternyata temannya satu lagi juga belum datang, akhawat berjilbab lebar itu terjebak macet sehingga baru datang 10 menit setelahku. Setelah dia datang, ekspresinya tetap sama. Dan kami langsung melaksanakan pekerjaan kami. Aku bayangkan aku ada pada posisinya, wah, pasti aku marahi satu-satu! Hehe…
Pagi tadi, aku datang lebih dulu, walau tidak tepat waktu karena harus..hehe..mengepel rumah! Kemudian dia datang terengah-engah, dan langsung meminta maaf dengan wajah penuh sesal karena ia tadi sedang keasyikan mengerjakan tugas kuliah sampai lupa waktu. Aku jadi lupa, apakah kemarin aku minta maaf atas keterlambatanku?
Saat itu aku sedang melayani temanku yang bertanya tentang tugas akhirnya. Alih-alih keterengah-engahannya terakomodasi dengan gerakku yang sigap, ia malah jadi harus menunggu aku selesai mengobrol. Aku merasa ingin mengakhiri obrolan dengan temanku ini tetapi rupanya ia masih perlu banyak bertanya. Sesekali aku melirik ke arahnya, mendeteksi adanya bahasa tubuh kebosanan. Tapi ternyata nihil. Ia malah terlihat menikmati saja kemenungguannya itu. Segera setelah aku selesai, kami menyelesaikan urusan kami.
Kami harus ke labkom untuk mengeprint ulang. Sebelum masuk labkom kami harus menandatangani buku tamu. Karena tak ada yang menjaga, orang kerap enggan mengisi, termasuk aku. Ia berjalan di depanku, dan ia berhenti segera di depan buku dan mengisinya, aku terhenyak sesaat. Kami masuk ke Labkom, duduk di bangku yang dekat dengan pintu. Pintu itu harus selalu tertutup karena ruangan itu ber-AC. Sejenak setelah duduk, ia melihat kea rah pintu lalu berdiri. Ia menutup pintu yang tampaknya lupa kututup tadi!
Usai mengeprint iapun menyempatkan menyapa rekan-rekan seangkatannya yang ada di sana. Sapa sederhana, tidak menimbulkan keributan. Lalu pamit dan pergi.
Aku jadi teringat segala yang dilakukan gadis yang kebetulan adik mentorku ini. Ia nyaris tak pernah absen mentoring. Ia adalah yang belum pernah kudengar mengeluh. Ia adalah yang bisa dipegang komitmennya saat menyanggupi sesuatu: mengerjakan tugas kelompok, hadir dalam daurah, belajar bersama….kegiatan yang justru kerap ditinggalkan oleh teman-temannya yang “aktivis” .
Gadis berjilbab mungil itu mengajarkan banyak padaku hari ini… tentang sebuah keteladanan, tentang sebuah integritas, dalam kesederhanaan….
An-Nuur 56
7 Juni 2006
12.6.06
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment