24.8.08
kulpet
alhamdulillah taun ini memulai lagi langkah akademik, hehe..alias kuliah lagi. suatu sore sempat berkenalan dengan anak muda mahasiswa s1 di UI. anaknya lincah dan cerewet,nanya ini itu, mulai interogasi "apa gak panas pake jilbab" sampe tepuk tangan waktu tau s1 di ITB dan s2 di UI. (dalem ati cuman nyenyes...belum tau dia..hehehe)
kuliah kali ini memang rada "ajaib", karena dari itung itungan di atas kertas, begitu banyak "ketidakmungkinan". mulai dari kondisi fisik, saat ini sedang hamil 8 bulan! which means in a month rashif will have a new sister! harus PP cibinong-depok yang waktu tempuhnya sejam, setiap hari kul (katanya), rashif baru 1 1/2 taun...
secara finansial, banyak kejadian yang mengharuskan keluarnya dana besar, sedangkan kuliah s2 mahal dan belum bisa dapet beasiswa;D duh jadi aja balik-balik beaortu+suami.
sebelumnya, tiap hari cuman bisa istikhoroh, kul engga, kul engga...
dan akhirnya...
ngerasain juga jadi "mahasiswa". maksudku, dulu waktu S1 bisa dibilang, "hidup sejahtera". mau makan apa, mau jajan apa, mau beli buku apa...mangga weh...bahkan bisa dibilang aku jarang buanget ke perpus buat pinjem buku. buku2 s1 aku sekarang udah ada di tangan kedua dan ketiga...entah kemana maksudnya...hehe...
sekarang, kudu super iritt...kayaknya 1000 sayang banget buat dijajanin permen, haha. jadi lebih rela bolak balik perpus, bahkan ngerental komputer karena paas kompie di rumah mogok. dan lagi gak sungkan juga bolak balik mahalum buat urusan pembayaran. inilah kulpet (kuliah dalam kemepetan..haha)
jadi inget teman teman dulu, berjuang keras buat tetep kuliah........
di rumah, gak lagi deh bisa nyantey. selain masih banyak tugas menanti, ada rashif yang ... well one day, dia begitu rewel, tyt cuman minta dipeluk dalam gendongan... ya...children, kadang kala mereka sangaaaat memusingkan, atapi lebih sering, mereka jadi obat hati
yah...mudah mudahan....semua ini menuju jalan yang berkah...manfaat yang jauh lebih banyak...ridho ALlah yang jauh lebih besar..
doain ya
17.8.08
peka dosa
Barangsiapa meninggalkan shalat jum'at karena meremehkannya tanpa suatu alasan maka Allah Tabaroka wata'ala akan mengunci hatinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
sering saya memperhatikan perilaku orang di depan televisi. sebagaimana kita semua tahu, isinya tak banyak positif. hal yang paling membuat saya miris adalah bagaimana para wanita berpakaian (atau bahkan tak berpakaian) di dalamnya.
ada yang langsung mengganti channel
ada yang mengalihkan pandangannya ke tempat lain
ada yang 'anteng' aja, tak lepas pandangannya
ada yang isengmuter channel, begitu ada gambar wanita yang menarik, diamlah beberapa saat di channel tersebut.
contoh wanita disini saya anggap paling mudah. karena, sesungguhnya kepekaan rasa malu kita (terutama bagi kaum pria) dapat terlihat dari bagaimana kita menjaga pandangan , apalagi jaman sekarang ini.
di mall, para wanita bahkan mengenakan celana yang sangat pendek sehingga seluruh tungkainya terlihat. kadang dengan kerah yang sangat rendah, kadang dengan bagian perut atau punggung yang tak tertutup.
apabila kita tak lagi merasa bahwa melihat itu semua adalah dosa...
dan tidak lagi merasa bahwa banyak melakukan perbuatan mubah adalah lebih dekat kepada maksiat
hmmm....
mari coba kita lihat
amal apa yang belum kita lakukan?
seberapa terjaga shalat kita? waktunya, khusyu'nya, berjamaahnya?
seberapa sering kita menelaah alQuran, atau sekadar membacanya?
karena itu semua mencegah kita dari perbuatan yang dimurkai Allah. tumbuh dari rasa malu dalam diri kita karena, salah satunya, adalah yakin akan pengawasan Allah...bahwa setiap perbuatan sebesar dzarrah pun akan dibalasNYA.
....
kadang orang berfikir rancu tentang "dosa" ini. ada yang berkata bahwa gak masalah orang suka melakukan "maksiat kecil", gak masalah orang sering melakukan hal-hal mubah, asal attitudenya baik.
menurut saya, ini adalah pemikiran yang amatlah pragmatis. sebagaimana pola pikir genre MTV , kata para ahli, yang memang jadi arus utama pemikiran manusia jaman ini. bagaimana sebuah sikap lebih utama daripada keutuhan diri? sebuah kehidupan yang berjalan tegak di atas kekutan prinsip (islam)?
20.7.08
Ing ngarso sung tuladha,
Ing ngarso sung tuladha,
Meneladani Sistem Pendidikan Iran untuk Membangun Kualitas Manusia Indonesia
Dunia pendidikan Indonesia terus berbenah. Krisis tahun 1998 telah membuka realitas kualitas sumber daya manusia Indonesia di mata dunia. Bukan main tercengangnya kami , menyadari Indonesia menduduki peringkat 54 dari 131 negara dalam Global Competitiveness Report 2007 – 2008 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (www.weforum.org). Laporan Perkembangan Manusia (Human Development Report 2007/2008-UNDP), Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara dengan nilai Human Development Index (HDI) tahun 2005 sebesar 0,728. Secara nasional tingkat pengangguran hampir 10% dari populasi usia produktif – (populasi usia produktif mencapai 162 juta jiwa -BPS, 2007).
Iran dengan populasi 68 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan 1,08 persen dan produksi domestik yang terukur dengan GDP sebesar $115 triliun. Iran adalah negara dengan ekonomi terkuat kedua di timur tengah. Angka melek huruf di iran mencapai 79% dan pendidikan diwajibkan hingga sekolah menengah atas. Berdasarkan laporan Bank Dunia, Iran telah menunjukkan pertumbuhan yang baik dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia dan perlindungan sosial. Sebagai contoh, dalam rentang 1970-2001 keikutsertaan warga dalam pendidikan dasar meningkat dari 60-90 %. Tingkat kemiskinan turun signifikan dari 47% dari 1978 menjadi 16% pada 1999.
Tak heran Iran menjadi salah satu negara berpengaruh di dunia. Ini berawal dari proses yang konsisten dalam pengembangan sumber daya manusia, terutama di sektor pendidikan. Politik dan ekonomi Iran kini begitu menjadi momok bagi dunia barat yang ditandai oleh momentum-momentum. Momentum penting Iran setelah revolusi Islam oleh Khomeini adalah pemerintahan presiden Ahmadinejad yang memperjuangkan hak hak nuklir Iran melawan tekanan Internasional. Dengan berbagai kesamaan sebagai negara timur, Iran patut menjadi teladan “tuladha” dalam membangun kembali kualitas SDM Indonesia.
Jejak Langkah Iran memberantas Buta Huruf
Langkah awal peningkatan kualitas manusia adalah memberantas buta huruf. Tanpa kemampuan ini sulit bagi seseorang untuk memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Pada tahun 2009 pemerintah Indonesia menargetkan angka buta huruf di bawah 5%, sedangkan pada tahun 2005 saja, secara statistik masih terdapat 15,04 juta penduduk Indonesia buta huruf, 3,5 juta di antaranya adalah penduduk usia produktif yakni 15-44 tahun (BPS,2005). Itu belum termasuk kurangnya akurasi perhitungan, terutama di daerah pedalaman yang diyakini jauh lebih tinggi lagi.
Sedangkan di Iran, pada tahun 2003 saja angka melek huruf sudah mencapai 79,4%. Dengan progressivitas meningkatnya kualitas pendidikan dasar ditinjau dari rasio guru-murid (1:19) dengan 100% guru terlatih, pendidikan gratis, dan tingkat kelulusan di pendidikan dasar yang tinggi (96,1%) (UNESCO,2008) angka melek huruf juga tentu jauh lebih tinggi. Perhatian penuh dan konsistensi pemerintah Iran dalam memberantas buta huruf wajib diteladani.
Sebelum tahun 2000, tingkat melek huruf di kalangan orang dewasa baru mencapai 23.1% (pria 16.3%; wanita 30.0%). sebuah literacy corps dibentuk pada tahun 1963 untuk mengirimkan wajib militer yang berpendidikan ke desa desa. Dalam 10 tahun pertama korps ini berhasil membantu 2,2 juta anak-anak dan 600.000 orang dewasa melek huruf. Pada tahun 1997 , 9.238.393 siswa masuk ke dalam 63,101 sekolah dasar, dengan 298,755 guru. Rasio guru dan murid 31:1. Pada tahun yang sama sekolah menengah mendidik 8.776.792 siswa dan 280,309 guru. Dua tahun kemudian, rasio ini mengecil menjadi 26:1. Pada tahun yang sama, 83% anak usia sekolah masuk sekolah. Perkembangan berikutnya, tahun 2007, mayoritas mahasiswa di universitas adalah wanita.
Kesadaran akan Peran Perempuan dalam Pendidikan Berkelanjutan
Partisipasi perempuan Iran di dunia pendidikan menarik untuk disoroti. Dalam Islam, para Ibu memiliki peran penting dalam pendidikan anak-anak. Ummu Madrasatun, ibu adalah sekolah. Tampaknya ini memotivasi pemerintah Iran untuk terus menggenjot kemampuan akademik para perempuan.
Berbeda dengan di Indonesia dimana para perempuan berpendidikan justru mulai meninggalkan anak-anak usia dini bersama pengasuh untuk bekerja di luar rumah. Di Iran, para ibu justru lebih banyak mengawal pendidikan anak usia dini mereka (Tabataba’i, 2007). Pun apabila sang Ibu bekerja, pendidikan anak tetap menjadi prioritas. Dengan demikian, meningkatkan kualitas ibu berarti berbanding lurus dengan peningkatan kualitas anak-anak mereka.
Dengan perbandingan populasi laki-laki da perempuan yang hampir berimbang, peran pendidik di sekolah mayoritas dilakukan oleh perempuan. Data tahun 2005 menunjukkan lebih dari 60% pengajar adalah perempuan di semua level pendidikan. (UNESCO, 2008) dan jumlah pelajar perempuan dari tahun ke tahun semakin tinggi, bahkan seperti disebutkan di atas, mayoritas mahasiswa universitas adalah wanita di tahun 2007.
Pemerintah Indonesia perlu belajar untuk lebih memedulikan akses dan kualitas pendidikan bagi perempuan, apalagi angka sekolah perempuan di Indonesia lebih rendah dibanding pria. Hal ini salah satunya disebabkan masih banyaknya anggapan bahwa perempuan tak perlu bersekolah tinggi karena ujung-ujungnya “hanya” mengurusi anak!
Perhatian Khusus pada Anak-anak Berbakat
Belum lama ini publik Indonesia dicengangkan oleh berita doctor (Hc.) termuda di dunia, Husein Tabataba’I, usianya baru tujuh tahun. Ternyata anak itu berasal dari Iran, negaranya Ahmadinejad yang juga sensasional. Maka public pun teringat tentang orang-orang Iran yang mendapat nobel internasional seperti Prof. Abdus Salam dan Ebadi. Bahkan, baru baru ini seorang profresor termuda di dunia, Anya Shabur, adalah keturunan Iran, walau berkewarganegaraan Amerika. Berarti, ia secara tak langsung juga merupakan “produk” dari sisem pendidikan Iran. Belum lagi prestasi Iran dalam mengembangkan teknologi nuklir yang mencengangkan dunia dengan kekukuhan mempertahankan hak-haknya atas itu.
The National Organization for Development of Exceptional Talents (NODET), disebut juga SAMPAD (سمپاد), adalah bentuk perhatian pemerintah Iran terhadap anak-anak dengan bakat khusus yang tampak sedari kecil dengan mendirikan yang menckup jenjang menengah dan tinggi . sekolah sekolah ini sempat ditutup pada masa-masa awal revolusi namun kemudian dibuka kembali. Penrimaan disasarkan pada ujian khusus yang sangat selektif dan kompetitif, terutama di Teheran. Biaya pendidikan sama dengan sekolah swasta tetapi dapat diringankan atau sepenuhnya gratis, tergantung pada kondisis ekonomi siswa. Bebrapa alumninya adalah ilmuan yang terkenal di dunia.
Indonesia perlu juga memperhatikan kebutuhan akan didirikannya secara khusus sekolah sekolah seperti ini mengingat secara individu, banyak putera Indonesia yang berjaya di kancah Internasional. Seprti pada olimpiade-olimpiade sains, juga banyak yang menjadi professor termuda di luar negeri. Sayangnya, mereka tidak dengan sengaja dibina oleh pemerintah secara khusus di sebuah wadah. Memang, ada kelebihan maupun kekurangan bagi masing masing metode, dan memang tak menutup kemungkinan bahwa sekolah dengan model seperti ini belum mampu meng”cover” semua anak berbakat di seluruh pelosok negeri. Akan tetapi, secara psikologis keberadaan sekolah seperti ini dalam sebuah sistem pendidikan akan lebih mempertajam “awareness” masyarakat terhadap anak-anak berbakat sehingga akan memberikan mereka peluang yang lebih besar untuk berkembang lebih maksimal. Jadi, program seperti ini juga layak untuk dipertimbangkan penerapannya di Indonesia
Islamisasi Pendidikan dan Pentingnya Pembentukan Karakter
Revolusi Islam oleh Khomeini pada tahun1979 telah memancangkan tonggak baru yang merevolusi sistem pendidikan di Iran. Iran yang memang sejak sebelumnya telah menerapkan perhatian besar terhadap pendidikan diberi pemaknaan yang lebih dalam akan Islam. Tanpa mengubah semangat ilmiah dalam pendidikan, esensi Islam dikembalikan dalam jiwa pengetahuan. Secara teknis, para siwa mulai dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Belakangan, beberapa penelitian membuktikan bahwa sistem seperti ini menjadikan para siswa berkonsentrasi lebih baik dalam menerima pelajaran.
Secra esensi, pemikiran dasar dari ilmu pengetahuan dikembalikan dalam sudut pandang Islam. Kemampuan memahami sebuah pengetahuan secara transedental akan menghasilkan keutuhan dalam pemahaman itu sendiri sehigga membuat ilmu pengetahuan tak hanya diketahui, tapi juga memiliki daya dorong untuk terus dikembangkan dan tentu saja dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Yang menginspirasi dari revolusi pendidikan di Iran ini adalah kecepatan langkahnya. Selama enam bulan pertama sejak revolusi, bahan dasar ajar bersudut pandang Islam untuk sekolah dasar segera diterapkan, pada tahun 1983 sudah terdapat 3000 bahan ajar baru untuk level pendidikan dasar sampai tinggi. Bahkan, penutupan universitas selama tahun 1979-1982 demi revolusi sistem pendidikan Islam juga terbilang sebagai langkah berani yang cepat dan penuh perhitungan. Bahkan, pemerintahan revolusi melibas bibit bibit pemikiran yang bertentangan dengan nilai Islam seperti Marxisme dan liberalism.
Memang, Indonesia masih jauh dari kemungkinan untuk melakukan revolusi Islam seperti yang dilakukan di Iran. Bahkan bibit pemimpin sekuat Khomeini pun belum tampak di negeri ini. Belum lagi perbedaan belum mampu disikapi secara dewasa. Akan tetapi, hal yang harus menjadi inspirasi bagi Indonesia adalah pentingnya pembentukan karakter dalam pendidikan. Pembentukan karakter ini tak membutuhkan sebuah mata pelajaran khusus, tapi, justri dari sudut pandang para pelajar dan pengajar memahami ilmu pengetahuan. Apabila ilmu dibiarkan tanpa nilai nilai dasar, tanpa nilai nilai transedental yang menjadi sumber pengetahuan itu sendiri,persekolahan benar benar hanya menjadikan para pelajar tahu “to know” saja, tanpa pemaknaan dan motivasi untuk memanfaatkan dan mengembangkannya dalam kehidupan nyata, apalagi untuk menemukan dan meggali ilmu ilmu baru dari kehidupan sehari hari. Ini penting bagi Indonesia karena pada saat ini Indonesia sedang menghadapi krisis nilai pendidikan yang tercermin dari makin maraknya kasus penyimpangan pelajar seperti kekerasan, seks bebas, dan narkoba. Tak hanya pelajar, para pengajar pun mulai terindikasi menyimpang sperti munculnya kasus kekerasan, pembocoran soal ujian, bahkan perzinaan.
PemerintahIndonesia harus mengambil langkah berani yang konsisten seperti yang silakukan Iran. Hasilnya memang tak bisa dirasakan hanya dalam beberapa minggu atau bulan, tapi bertahun tahun. Dan harga konsistensi itupun tak murah. Akan selalu ada cercaan di sana sini dari pihak pihak yang tak ingin perubahan. Tapi kita tak boleh berhenti bergerak hanya demi mendiamkan gongongan cerca itu. Selama kita melakukannya atas nilai nilai yang kuat yang telah dipertimbangkan masak dan bijak oleh mereka yang merupakan ahlinya, dengan keteladanan yang utuh dari para tetua,bersama kita pasti bisa.
Bersama Bersinergi, untuk Dunia yang Lebih Baik
Kehidupan akan harmonis, saat ia kembali pada keseimbangan. Tidak mungkin keseimbangan itu akan tercapai bila hanya satu kebudayaan yang adidaya, sedang yang lainnya inferior. Negara-negara “timur” harus mulai bangkit dengan segenap keseriusan dan konsistensi untuk menjadi yang terbaik, dengan kekhasannya yang menjadi pembeda dan keunggulan dari negara-negara “barat”.
Dengan membangun kerjasama yang erat di berbagai sisi kehidupan, barulah kita akan membangun kekuatan yang solid dan berpengaruh. Sejalan dengan satu dari tiga prinsip dasar pembelajaran Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso sung Tuladha, Indonesia akan selalu meneladani mereka yang lebih baik untuk maju. Saling mengisi, untuk membentuk tatanan dunia yang lebih baik. [mt]
…
Reference :
“Education in Iran” . http://wikipedia.org , diakses Juni 2008
UNESCO Institute for Statistics, Data Centre http://stats.uis.unesco.org/unesco/ReportFolders/ReportFolders.aspx, diakses Januari 2008.
UNICEF, Division of Policy and Practice, Statistics and Monitoring Section, www.childinfo.org , diakses Mei 2008
Mukjizat abad 21, Husein Ahmad Tabataba’I doctor cilik penghafal al-Quran. 2007. Bandung : Penerbit Mizan
“2007/2008 Global Competitiveness Report”, www.weforum.org , diakses Januari 2008
Statistik Indonesia, Biro Pusat Statistik. Diakses dari www.bps.go.id
Mendidik Emosi Sejak Usia Dini, Menyelamatkan Generasi.
Mencermati maraknya penyimpangan perilaku pelajar akhir-akhir ini sungguh membuat miris. Jelas ada kesalahan dalam rantai sistem pendidikan kita. Sejak usia dini sampai perguruan tinggi, oleh orangtua, masyarakat, maupun sistem pendidikan (sekolah). Pemerintah harusnya sudah menyadari hal ini, sehingga pembentukansebuah direktorat yang membawahi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapar dilihat sebagai niat untuk membenahi sistem dengan memulai dari usia dini. Pengejawantahan niat ini adalah berdirinya lembaga-lembaga PAUD Non-Formal yang kini mulai populer di tengah masyarakat.
Kendati baru dan punya misi ideal, kita tetap perlu waspada terhadap pengelolaan PAUD non-formal. Kita semua maklum, sistem pendidikan formal yang ada (SD-SMU) kebanyakan hanya menekankan aspek kognitif ketimbang aspek afektif, psikomotorik, apalagi spiritual. Hal ini tersirat pada munculnya polemik UAN dimana sebagian kalangan menganggap UAN sebagai penegasan bahwa Negara hanya menilai kemampuan siswa dari aspek kognitif belaka. Kegagalan sistem sekolah untuk menyeimbangkan potensi anak terindikasi juga dari semakin meningkatnya angka kekerasan, perilaku seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.
Perilaku pelajar Indonesia seperti ini dapat disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosi. Sebuah penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosi ditemukan amat berpengaruh terhadap perilaku sosial seseorang. Ketidakmampuan mengenali dan mengelola emosi untuk mendukung pemikiran mendorong remaja untuk melakukan tindakan-tindakan seperti mengkonsumsi narkoba, alkohol, dan hubungan yang buruk dengan orang lain. (Brackett, dll., 2004)
Orangtua perlu waspada bila ketidakseimbangan ini mulai muncul pada PAUD. Indikasinya dapat dilihat apabila Anak-anak lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang mendukung kemampuan membaca dan berhitung lewat permainan-permainan pengasah kecerdasan logis matematis, tapi sangat minim dalam pendidikan emosi. Kecenderungan yang,bila kita tak jeli, bisa dianggap wajar karena itulah budaya pendidikan kita sampai saat ini, sehingga lembaga baru sangat mungkin “tertulari” oleh budaya yang telah ada.
Elias, dkk. (dalam Ciarrochi, dkk., 2001) menyebutkan bahwa manusia yang terdidik adalah mereka yang berilmu pengetahuan (knowledgeable), bertanggung jawab (responsible), penyayang (caring) dan tidak kasar (nonviolent). Dari definisi-definisi di atas, maka sebenarnya pendidikan di Indonesia selain menyentuh ranah kognitif dan menanamkan ilmu pengetahuan pada anak didik, seharusnya juga menyentuh sisi afektif, atau dengan kata lain, emosi, perasaan.
Manusia yang hanya cerdas secara intelektual, tidak akan dapat berkembang menjadi manusia seutuhnya jika ia tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Mungkin ia punya ilmu dan keterampilan tertentu, tapi ia tidak tahu bahwa masyarakat juga seharusnya memperoleh manfaat dari ilmu dan keterampilan tersebut. Atau mungkin ia punya pencapaian tertentu yang luar biasa, tapi ia tidak bisa menerima kritik dari orang lain, tidak bisa bekerja sama, dan tidak mengerti bahwa berhubungan dengan orang lain tidaklah sama halnya dengan berinteraksi dengan buku, peralatan teknik, atau komputer. Seorang penulis bernama Charlotte Danielson dalam artikelnya tentang peningkatan prestasi siswa menyatakan, “Children are not born with social skills; they must learn them.” Untuk dapat menciptakan manusia seutuhnya, ranah afektif adalah suatu keniscayaan untuk dididik dan dikembangkan.
Pada usia dini, jiwa, raga, dan akal manusia memiliki potensi luar biasa untuk berkembang. Bagaimana ia dibentuk di usia ini, itulah karakter dasar yang menjadi fundamen kehidupannya kelak. Para pengambil kebijakan, para pengelola sistem pendidikan usia dini, para pengajar, dan orangtua perlu lebih bijaksana dan waspada, agar generasi baru ini tak menjadi korban baru dari sistem yang telah gagal. Tanpa pendidikan emosi yang benar, anak anak hanya akan menambah panjang daftar buram penyimpangan perilaku pelajar di saat mereka tumbuh kelak.
Pada usia dini, pendidikan emosi pada dasarnya sangat sederhana tapi membutuhkan ketelatenan dan keteladanan yang utuh. Bahkan, ini mungkin akan lebih kompleks daripada saat mengajari mereka membaca dan berhitung (yang belum menjadi target utama pendidikan pada usia batita). Tetapi, begitu mereka cerdas secara emosi, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar membaca dan berhitung. Penelitian tentang otak, sebagai contoh, telah menunjukkan bahwa emosi (mengendalikan) perhatian, proses belajar, memori dan aktivitas mental serta intelektual penting lainnya (McCombs, 2001)
Keteladanan dan ketelatenan, kunci pendidikan emosi anak usia dini
Keteladanan dan ketelatenan adalah kunci penting karena kecenderungan anak usia batita yang masih egosentris. Berdasarkan aspek kecerdasan emosi dari Goleman (1998), ada beberapa tahap dalam pencerdasan emosi seorang siswa yakni : mengenal emosi diri, pengendalian diri, mengenali perasaan orang lain dan berempati, lalu berinteraksi dengan orang lain.
1. Mengenal emosi diri
Pada awalnya emosi dapat diperkenalkan lewat cerita-cerita atau dongeng, dibantu dengan penggunaan flashcard yang menggambarkan emosi beserta mimik wajah orang yang tengah mengalami hal tersebut. Para pendidik dan orangtua juga perlu memanfaatkan situasi dimana sang anak menunjukkan emosi sedih, marah, dan senang dengan mengatakan “adik sedang sedih ya?” misalnya, dan banyak lagi cara lainnya..
2. Pengendalian diri
Ketika seorang anak sedang belajar mengendalikan diri, hampir seluruh upaya harus mereka lakukan sendiri. Pendidik atau orang tua hanya berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Motivasi ini misalnya dapat diberikan saat anak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu permasalahan, atau ia mengalami kegagalan. Pendidik dapat terlibat untuk memotivasinya bangkit dari kekecewaan, membesarkan hati dan mengingatkannya akan kesempatan lain.
3. Mengenali perasaan orang lain dan berempati
Kemampuan ini sebenarnya dapat dilatih bersamaan dengan kemampuan mengenali emosi diri sendiri. Anak-anak dapat dibantu untuk memahami bahwa bukan hanya dia yang memilik perasaan perasaan tersebut tapi begitu juga orang lain saat diperlakukan sama. Kita dapat mengajarkannya dengan sama sama menjenguk teman yang sakit lalu memberinya hadiah supaya sedihnya hilang berganti senang, misalnya
4. Berinteraksi dengan orang lain
Kemampuan ini dapat dilatih juga melalui metode pengajaran di kelas. Misalnya, guru memberi tugas untuk dikerjakan secara kelompok. Dengan bekerja bersama, siswa akan melatih sendiri kemampuan mereka menyelesaikan konflik menuju satu tujuan. Dalam menghadapi suatu permasalahan, ajarkan kepada anak-anak bahwa mengalah itu tidak selalu berarti kalah. Ajarkan juga mereka cara mencari solusi bersama (win-win solution). Kemampuan sosial ini sangat penting untuk dapat dimiliki para calon pemimpin masa depan.
Dalam bukunya yang berjudul “Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak”, Istadi (2006) menyebutkan beberapa aspek yang harus dilatih (melalui kegiatan sehari-hari maupun program khusus), dalam meningkatkan kecerdasan emosi siswa. Aspek-aspek tersebut adalah keberanian untuk berbicara jujur, menahan diri dari hinaan orang lain, realistis dalam menentukan target apapun, menunda keinginan saat ini untuk manfaat yang lebih besar di kemudian hari, mengatasi kemarahan, membangun percaya diri, menjadi pendengar aktif, menyampaikan pendapat, berempati, melatih kerjasama, serta bertahan dari kesedihan dan bangkit dari kegagalan. Seorang guru, orang tua atau orang dewasa lain yang berada di sekitar seorang anak dan remaja harusnya menampakkan keteladanan dalam aspek-aspek tersebut. Seperti telah diungkap sebelumnya, keteladanan adalah kunci penting untuk dapat menanamkan kecerdasan emosi pada anak. Dengan menunjukkan keteladanan, sesungguhnya kita tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan pentingnya satu keterampilan untuk mereka kuasai.
Menentukan Prioritas
Yang membedakan kualitas sebuah bangsa dibandingkan dengan yang lain adalah kekuatan karakter masyarakatnya. Kita harus cerdik menentukan prioritas dalam membangun karakter anak untuk memperbaiki kondisi bangsa. Nilai-nilai positif tradisi makin tergerus globalisasi, anak-anak tak lagi dapat belajar menjadi “agung” dari kebudayaan masyarakat. Bila kita juga abai pada pendidikan emosi, akan tercipta generasi yang hampa dan tak punya visi hidup. Tanda tandanya sudah kita lihat sekarang. Lantas mengapa kita tak belajar dari kesalahan masa silam? Karena sekali kita melakukan kesalahan, umur manusia tak akan dapat diulang. Sebuah generasi tak dapat dihapus. []
6.7.08
masa lalu
ternyata, bukan hal mudah untuk memaafkan sebuah... masa lalu...
hiks....
grow up
"murtad"
itu istilah dari oom aku pagi ini , yang isterinya dah ndekan. ba'da shubuh
"murtad" akademik buat mereka yang s1 nya jurusan A, s2 jurusan B, dst
dan atas "dosa" itu negara punya "siksa"
susah naek pangkat di jajaran PNS
hmm...hmmm...hmmm...
hmmm???
good lookin'
bebrapa hari ini keluargaku punya "glitter" baru : jadi comblang. mulai aku dan suami. ibuku. dan adikku.
yang lucu....ada satu kriteria yang tampak klise tapi selalu gak basi. sebuah kriteria yang muncul di kata oertama mereka para pencari jodoh (yang tak kunjung bertemu) : good lookin'
wah...
ternyata realisasi sang hadits penghulu kriteria jodoh tak mudah. yang itu lho... perempuan itu dinikahi karena........ pilihlah yang baik agamanya!
whai pencari jodoh...bukankah yang kaucari adalah mereka yang kan menjadi ayah dan ibu dari generasi penerusmu? ihik..prikitiuw....
19.1.08
tahu tempe daging ayam
Pertama kali jadi “kontraktor” disini, ada sebuah kesan yang unit tentang betapa heterogennya masyarakat di komplek BBD. Ada yang tajir (walaupun daerah ini bukan permukiman elite), , ada yang biasa aja, kontaktor kayak kite, ada pula yang miskin sampe tinggal di bedeng atau warung dagangnya sendiri.
Di pasar, kita pun tak bisa bilang yang beli tahu tempe ikan asin adalah orang middle-low, malah tetanga depanku yang mobilnya tiga bermerek mahal mahal pun langganan tahu tempe. Kita juga gak bisa bilang yang beli ayam dan daging orang middle-up, banyak ibu ibu berpakaian kampong juga belanja ayam, malah kebanyakan yang middle-up justru belanja ikan, keliatan lebih murah, tapi ikan justru lebih mahal dari ayam sekarang.
Kala sore hari atau liburan tiba, jalan menjadi lebih ramai dari hari biasa. Maka saat itu, tak jarang ditemui pembantu-pembantu yang ngobrol ngobrol dengan ibu-ibu dan bapak bapak pemilik rumah. Etnis cina bertemu jawa, sunda, Madura. Semuanya santai, meski obrolan hanya ada di permukaan dan tentang maslah yang sepele, tapi bukannya itu tren masyarakat kota, sangat berhati hati dengan privasi?
Hal lain yang kusuka dari komplek ini adalah, anak-anak terlindungi disini. Mereka disapa dengan ramah (gak keitung berapa banyak orang yang jadi kenal “cuman” karena aku bawa rashif), diawasi (di depan rumah ada pohon jambu yang suka diterondolin anak-anak, selalu ada yang menegur, “sudah ijin belum?” atau “ati-ati tuh”). Halaman TK dibuka sampai sore supaya anak-anak balita bisa bermain sesuka hai. Anak-anak berkeliaran menguasai jalan di sore hari demi sekadar main bola atau main air, itupun sudah biasa. Bahkan disini juga ada playgroup gratis untu anak-anak yang orangtuanya middle-low.
Kadang gak percaya kalo Jakarta itu egois dan kejam, apa aku terlalu naïf? Hmm…au ah….
sakit jiwa?
S*****n. Akhirnya gue napak juga di masjid yang jadi tempat nongkrong selama mahasiswa! Maklum, ada perlu…hehehe. Segera gue ke secretariat. Nemuin ukhti yang janjian sama aku. Semua masih sama. Orang-orangnya..dll. sayangnya, tak kutemui wajah yang bersinar dan bersemangat. Entah kenapa….
Tiba-tiba seorang pria paruh baya berbicara kepadaku. Rupanya dia salah orang. Dikiranya aku sekretaris s*****n. Aku menoleh. Walah. Gosipnya, Ini orang sakit jiwa. Alert! Jaman masih kuliah dia diberitakan serig mengejar cewek cewek buat dijadiin istri kedua. sakit. Sempat pula dikabarkan mengincar gue…woho..geer lo!geer apanya. Takut kali!
Setelah bertanya angkatan berapa. Maka mulailah ia melakukan jurus pedekate basi : buat perempuan mengagumi dengan menanyakan sesuatu yang terdengar cerdas yang kemungkinannya kecil buat mampu dia jawab (gue pernah baca ini dimanaaa gitu) “apa itu teknologi?, kamu pernah belajar teknologi, ada mata kuliahnya?” gue cuek aja bilang “gak pernah dapet kuliah teknologi”. Ngomong apa lagi gitu gak gue dengerin. Ini penyakit gila nomer tujuh belas: gila ketakjuban.
Epilognya. Sang ukhti nanyain. “si kecil mana teh?” kujawab,”ada dibawah sama bapaknya”. Eh…si paruh baya lengsung nanya: “oh, sudah nikah, sama siapa?”. Yang menjawab sang sekeretaris senior yang dari tadi kuliat wajahnya masam begitu si pria paruh baya ini melancarkan jurus, “suaminya namanya bayu, aktivis s*****n juga”. Sekretaris senior yang dari tadi juga keliatan gak senang enjawab dengan wajah menang. Lalu, si pria peruh baya yang katanya mengidap sakit gila nomer delapan belas ini, tanpa ba bi bu, apalagi be dan bo serta beu. Dia pergi!
Walah…
Berkahnya dimana masjidku sayang ini…?
Jadi inget kata-kata anaknya gito rollies : “pak, gak semua yang di mal itu jelek, gak semua yang di masjid itu baik”
dua sepi
Pagi yang padat di sela Jakarta. Seorang nenek berkebaya lusuh mengasongkan dagangan sambil terburu buru. Seekor kucing tua dengan lumpur kering di bulu bulu keemasan yang tak lagi cerah menguntit di belakangnya.
“jangan ikut…!” sahut sang nenek pada si lumpur emas. Tapi kucing tua itu berkeras
“ciiit…..”
Sedan mulus berdecit keras.
Si lumpur emas mengaduh berdarah.
Sang nenek merengkuh berhambur. takut sepinya tinggal sendiri
Gading,041207
4.1.08
falsafah muhammadiyah
apakah kamu tahu orang orang yang mendustakan agama?
yaitu mereka yang menghardik anak yatim
dan tidak memberi makan orang miskin
maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shaltnya
dan engan membayarkan zakat
13.7.07
ananda bagi bunda
duh,kaga puitis
