25.3.09

what you watch is what you expect

bismillah

pagi belum juga nongol, tiba tiba sapaan suami aku yang lagi mantengin komputer terdengar agak aneh "duh yang, kamu bajunya kok udah jelek begitu sih..." . yang disapa cuman bengong.

penasaran, aku coba buka komputer yang sekarang sudah ditinggal tidur oleh active usernya... dan.. halah, rupanya dia baru koleksi desain kaos untuk perempuan...

baru ngeh aku..

4.1.09

belajar konsep matematika

bismillah

membedakan besar dan kecil, banyak dan sedikit, tinggi dan rendah, panjang dan pendek adalah bibit logika yang mendasar, karena itu, penting untuk dikuasai anak sejak dini. salah satu teknik yang ampuh untuk mengajari anak bayi (antara 1-2 tahun) untuk memahami konsep ini adalah dengan memberikan contoh nyata dan memainkan intonasi/pitch suara. sehingga, tak hanya indera visual dan kinetetik anak yang dimanfaatkan, tetapi juga sensasi auditorinya.

otak anak balita selalu dalam kondisi gelombang theta, ini adalah kondisi yang paling ideal untuk menyimpan informasi. ia akan menyerap APA SAJA yang ia peroleh dari lingkungan, ibarat spons. namun,bagaimana ia mengklasifikasikan apa saja tersebut menjadi sebuah keterampilan strategis yang harus diajarkan dan tentu saja, manfatnya akan sangat besar ketika ia memasuki usia sekolah.

salah satu konsep matematis yang penting adalah membedakan sifat benda. terkait dengan  ukuran, kita perlu mengenalkan konsep konsep ukuran relatif sejak dini. ini lebih penting daripada mengajarinya berhitung, karena untuk berhitung, anak perlu mendefinisikan dan mengelompokkan.

anak-anak bayi sangat ingin tahu. dan mereka memanfaatkan semua inderanya. semakin banyak indera dimanfaatkan, semakin dalam pula pengetahuan disimpan di memori. adalah hal yang kurang tepat apabila kita mengenalkan objek berupa kartun, misalnya, bagi anak-anak. karena anak-anak ini masih sangat konkrit. akan sangat sulit baginya membayangkan bagaimana wujud tokoh kartun di dunia nyata apabila ia belum pernah melihatnya. jadi, usahakan selalu mengenalkan sesuatu yang baru dengan menunjukkan bendanya langsung, membiarkan anak mengeksplorasi benda tersebut dengan seluruh inderanya. apabila ini tidak memungkinkan, anda dapat menggunakan foto atau video yang menampilkan bentuk nyata, dan bukan kartun yang sebenarnya sifatnya ikonik, artinya, mungkin kartun hanya menampilkan ciri terpenting dari objek yang dikartunkan.

saat mengenalkan konsep-konsep besar dan kecil misalnya. anda bisa mengambil dua jenis mainan yang sama, usahakan perbedaan sekecil mungkin pada jenis mainan. dan, untuk pengenalan pertama, usahakan ukurannya sangat ekstrim. yang satu benar benar lebih besar dari yang lain. misalnya bola atau boneka.

nah, sambil menunjukkan benda yang kecil , anda bisa memberitahu bayi kecil anda,bahwa ini "keciiiiiiiiiiiil" dengan pitch dan suara yang tinggi. dan anda pegang yang besar dan berkata, ini "besaaaaaaaaaaar" dengan suara yang dalam dan keras. 

ulangi berkali kali setiap anda menemukan benda sejenis dengan perbedaan ukuran ekstrim. setelah anak anda sepertinya telah menguasai, anda bisa kenalkan dia dengan ukuran relatif besar dn kecil. caranya sederhana. bila tadinya anda hanya menggunakan dua benda, kini, gunakanlah tiga benda, dengan pertnyaan, mana yang lebih besar?

nah, setelah ia cukuo baik dalam menguasai satu konsep, barulah beranjak ke konsep tinggi rendah, dst. sehingga anak tidak bingug..

belajar konsep matematika

bismillah

membedakan besar dan kecil, banyak dan sedikit, tinggi dan rendah, panjang dan pendek adalah bibit logika yang mendasar, karena itu, penting untuk dikuasai anak sejak dini. salah satu teknik yang ampuh untuk mengajari anak bayi (antara 1-2 tahun) untuk memahami konsep ini adalah dengan memberikan contoh nyata dan memainkan intonasi/pitch suara. sehingga, tak hanya indera visual dan kinetetik anak yang dimanfaatkan, tetapi juga sensasi auditorinya.

otak anak balita selalu dalam kondisi gelombang theta, ini adalah kondisi yang paling ideal untuk menyimpan informasi. ia akan menyerap APA SAJA yang ia peroleh dari lingkungan, ibarat spons. namun,bagaimana ia mengklasifikasikan apa saja tersebut menjadi sebuah keterampilan strategis yang harus diajarkan dan tentu saja, manfatnya akan sangat besar ketika ia memasuki usia sekolah.

salah satu konsep matematis yang penting adalah membedakan sifat benda. terkait dengan  ukuran, kita perlu mengenalkan konsep konsep ukuran relatif sejak dini. ini lebih penting daripada mengajarinya berhitung, karena untuk berhitung, anak perlu mendefinisikan dan mengelompokkan.

anak-anak bayi sangat ingin tahu. dan mereka memanfaatkan semua inderanya. semakin banyak indera dimanfaatkan, semakin dalam pula pengetahuan disimpan di memori. adalah hal yang kurang tepat apabila kita mengenalkan objek berupa kartun, misalnya, bagi anak-anak. karena anak-anak ini masih sangat konkrit. akan sangat sulit baginya membayangkan bagaimana wujud tokoh kartun di dunia nyata apabila ia belum pernah melihatnya. jadi, usahakan selalu mengenalkan sesuatu yang baru dengan menunjukkan bendanya langsung, membiarkan anak mengeksplorasi benda tersebut dengan seluruh inderanya. apabila ini tidak memungkinkan, anda dapat menggunakan foto atau video yang menampilkan bentuk nyata, dan bukan kartun yang sebenarnya sifatnya ikonik, artinya, mungkin kartun hanya menampilkan ciri terpenting dari objek yang dikartunkan.

saat mengenalkan konsep-konsep besar dan kecil misalnya. anda bisa mengambil dua jenis mainan yang sama, usahakan perbedaan sekecil mungkin pada jenis mainan. dan, untuk pengenalan pertama, usahakan ukurannya sangat ekstrim. yang satu benar benar lebih besar dari yang lain. misalnya bola atau boneka.

nah, sambil menunjukkan benda yang kecil , anda bisa memberitahu bayi kecil anda,bahwa ini "keciiiiiiiiiiiil" dengan pitch dan suara yang tinggi. dan anda pegang yang besar dan berkata, ini "besaaaaaaaaaaar" dengan suara yang dalam dan keras. 

ulangi berkali kali setiap anda menemukan benda sejenis dengan perbedaan ukuran ekstrim. setelah anak anda sepertinya telah menguasai, anda bisa kenalkan dia dengan ukuran relatif besar dn kecil. caranya sederhana. bila tadinya anda hanya menggunakan dua benda, kini, gunakanlah tiga benda, dengan pertnyaan, mana yang lebih besar?

nah, setelah ia cukuo baik dalam menguasai satu konsep, barulah beranjak ke konsep tinggi rendah, dst. sehingga anak tidak bingug..

31.12.08

MENGAPA ANAK ASIA LEBIH “PINTAR” DIBANDING ANAK AMERIKA?

bismillah

Kita sering mengira bahwa anak-anak barat, terutama Amerika, serba lebih dari anak Asia. Tapi tahukan anda bahwa anak-anak Asia secara mutlak jauh berada di atas anak-anak Amerika dalam kemampuan matematis dan sains? Bagaimana itu bisa terjadi?

Banyak sekali penelitian-penelitian psikologi di Amerika menyelidiki mengapa prestasi anak-anak Amerika keturunan Asia sangat menonjol di bidang akademis, terutama sains dan matematika. Salah satunya adalah yang meneliti bagaimana matematika diajarkan secara berbeda di sekolah-sekolah Asia dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Amerika dan Inggris. Anda mungkin dapat menegok kembali, pendidikan matematika dan sains seperti apa yang anak anda dapatkan di sekolah?

 

Cara Guru Mengajarkan Matematika

Di Jepang, semua sekolah seragam dalam kurikulum dan rutinitas. Kebanyakan pelajaran dimulai dengan guru memberikan satu soal dan murid diminta untuk memecahkannya selama 10-15 menit, baik secara mandiri maupun berkelompok. Apabila sebagian besar siswa sudah menemukan setidaknya satu cara penyelesaiannya, guru kemudian mengajak semua siswa untuk mendiskusikan jawaban-jawaban siswa sampai menemukan solusi umum pemecahan jenis soal tersebut. Pada akhir setiap pelajaran, semua murid memperoleh waktu untuk menerapkan apa yang sudah dipelakari pada soal-soal latihan dari buku matematika mereka.

Sebelum memulai proses  belajar, guru di Jepang selalu membuat perencanaan yang isinya bagaimana mengarahkan proses berfikir anak sehingga sesuai dengan topic yang dibahas maupun antisipasi guru terhadap respon siswa terhadap topik tersebut. Topic yang dibahas setiap kali pertemuan bersifat sinambung dan terfokus

Sedangkan di Amerika, pelajaran matematika lebih bervariasi. Guru-guru di tiap sekolah memiliki cara mengajar yang berbeda-beda, tidak seragam seperti di Jepang. Pelajaran tidak dimulai dengan pemecahan soal, melainkan siswa diberitahu cara menyelesaikan soal atau kadang dengan penjelasan konsep matematika. Topic juga bisa berganti-ganti selama pelajaran, tidak sinambung seperti di Jepang.

dari sini kita dapat melihat bahwa guru-guru di Jepang lebih menghargai proses berfikir siswa dengan mendorong siswa mencari penyelesaiannya sendiri, lalu membahasnya bersama. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru-guru di Amerika juga berbeda dengan guru-guru di Jepang. Guru-guru di Amerika lebih cenderung memberikan soal seperti “berapa panjang segitiga ini?” atau “berapa tigapuluh dibagi tiga?”, jadi siswa diminta menyebutkan jawaban tanpa menjelaskan bagaimana memperoleh jawaban tersebut. Sedangkan guru-guru di Jepang lebih sering member soal yang meminta penjelasan bagaimana jawaban diperoleh, misalnya “ bagaimana kamu meemukan luas segitiga ini”? atau “mengapa luasnya 40 cm2?”

Kemudian, di Jepang, siswa, terutama di sekolah dasar, terbiasa diarahkan pada sesuatu yang konkrit dan ada di sekitar mereka. Misalkan, ketika belajar tentang segitiga, semua murid memegang benda berbentuk segitiga sehingga mereka dapat langsung membayangkan bentuknya. Di Amerika, biasanya gambar segitiga hanya ada satu, dan itupun diletakkan di depan kelas untuk didemonstrasikan oleh guru.

Buku Teks Matematika

Dari penelitian yang dilakukan terhadap buku teks matematika Jepang dan Amerika, ditemukan bahwa : (1) instruksi soal diberikan lebih panjang di buku-buku jepang daripada Amerika, sedangkan panjang soal latihannya hampir sama. (2) contoh-contoh soal tiga kali lebih banyak di buku Jepang daripada di Amerika , dan  buku teks jepang selalu menggunakan contoh-contoh konkrit yang ada di kehidupan nyata, (3) buku teks Jepang selalu menggunakan ilustrasi yang berkaitan sedangkan buku teks Amerika sedikit memberikan ilustrasi dan adapula ilustrasi yang tidak berkaitan dengan soal, dan terakhir, buku jepang lebih menekankan hubungan antara representasi simbolis, verbal, dan visual dari suatu metode pemecahan daripada buku teks Amerika

Kepercayaan Orangtua dan Sikap Pelajar

Orangtua Jepang, dan sebagian besar negara Asia Timur percaya bahwa kerja keras adalah sebagian jalan menuju keberhasilan. Inilah yang ditekankan kepada anak-anak mereka. Sementara, ibu-ibu Amerika justru percaya bahwa prestasi sekolah yang buruk karena memang bawaan alamiah anak yang tidak mampu dalam bidang itu. Ini berpengaruh pada sikap anak dimana ternyata ditemukan bahwa anak-anak Asia memang lebih percaya bahwa keberhasilan diperoleh dengan kerja keras dibandingkan dengan Anak-anak di Amerika.

Hubungan Orangtua dan Guru

Di Jepang, guru sangatlah dihormati. Mereka bahkan menyebut guru sebagai sensei. Begitu pula di Cina, dimana guru disebut master atau di Jepang, guru disebut dengan seonsangnim. Guru sangat kenal dengan latar belakang anak didiknya, bahkan sering dimintai saran oleh para orangtua. Di Jepang, orangtua bersekutu dengan guru untuk membentuk anaknya. Sedangkan di Amerika, orangtua menyerahkan sepenuhnya pada guru dan apabila anak mereka tidak pintar, maka guru akan segera dipersalahkan. Selain itu, guru merupakan profesi yang tidak diperhitungkan di Amerika, mereka umumnya digaji rendah dan ini mengurangi apresiasi masyarakat terhadap guru. Yang menarik, di Indonesia, kondisinya lebih ambigu lagi, guru disebut dengan “guru” yang sebenarnya dari akar katanya setara dengan master, tapi digaji kurang layak…

Nah, itu adalah sebagian hasil penelitian bagaimana anak Asia dididik secara berbeda dibanding anak Amerika dalam hal penguasaan sains. Tak heran, produk-produk teknologi maju kini lebih banyak dikuasai oleh pemain Asia daripada Amerika. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi sudut pandang baru bagi anda tentang pelajaran matematika bagi buah hati anda.

30.12.08

fwd: anak-anak bali mengenal sampah

bismillah
ini artikel dari blog orang, lucu juga

Aksi Anak-anak Memahami Sampah

Sinetron dan dongeng, dua hal yang menjadi kesukaan anak-anak kini. Kisah puteri dan pangeran tak pernah hilang dari memori anak-anak. Puluhan anak-anak di daerah Subak Dalem, Denpasar Utara juga memilih cara ini untuk memahami pendidikan lingkungan hidup.

Minggu, 3 Februari lalu 12 anak-anak yang tergabung dalam kelompok NakNik itu mementaskan drama yang berjudul “Kisah Puteri dan Pemulung”. Tokoh utamanya adalah Puteri dari Kerajaan Subak Carik yang mencari pasangan. Dari sekian orang pelamar, seorang pemulung memberanikan diri mendaftar.

“Aku adalah penyelamat bumi. Kalau tidak ada aku sampah-sampah bisa membuat banjir. Aku juga bisa menghasilkan banyak uang hanya dengan mendaur ulang sampah,” kata si pemulung yang diperankan Made Sudarsana bangga. Akhirnya pemulung ini dipilih Puteri karena sesuai dengan kondisi kerajaan yang membutuhkan penyelamat dari kepungan banjir.

Drama itu sungguh tepat dengan situasi lingkungan saat ini. Hujan deras sehari membuat banjir berhari-hari di ibukota Jakarta dan tempat lain di Indonesia.

Pentas anak-anak berusia 3-14 tahun ini juga menyentil orang tua mereka yang beberapa kali terlibat konflik penanganan sampah di Jalan Subak Dalem itu. Sebagian warga di Subak Dalem masih membuang sampah di tanah kosong, sungai, atau got di dekat rumah mereka. Sampah-sampah itu sebagiannya dibakar.

Inilah yang menjadi sumber sejumlah perselisihan seperti asap pembakaran dan sampah anorganik yang menyumbat got atau sungai. Sampai kini, persoalan ini belum terpecahkan.

Untuk mulai mengurai konflik itu, komunitas NakNik, kelompok anak-anak di Gang V Jalan Subak Dalem itu mengundang Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali. Dalam suratnya NakNik mengatakan masalah sampah akan menjadi persoalan lingkungan yang berat bagi warga di daerah pemukiman baru ini.

“Banyak yang buang sampah di sungai, padahal saya setiap hari mandi di sungai itu,” kata Gede Santika, 14 tahun. Bersama teman-temannya Gede membutuhkan sungai itu untuk mandi dan mencuci baju. Air besih yang didapatnya dari sumur bor diprioritaskan untuk memasak.

Gede dan teman-temannya begitu gembira setelah memastikan kehadiran PPLH Bali pada Hari Minggu itu. Mereka memutuskan untuk mempersembahkan drama untuk membagi kesepahaman soal pentingnya mulai bertindak untuk mengolah sampah.

Drama hasil latihan dua hari itu dipentaskan dengan santai dan atribut pendukung seadanya. Anak perempuan menyiapkan mahkota untuk sang puteri dari bunga kamboja. Sementara sejumlah orang dewasa menonton sambil tersipu malu.

Ida Bagus Nyoman Armasandiasa dan I Ketut Narta dari PPLH Bali kemudian mengajak anak-anak mengenal jenis-jenis sampah dengan kartu permainan. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yang bersaing untuk memisahkan sampah menurut jenisnya, organik dan non organik.

Istilah ini agak sulit diingat anak-anak. Tapi setelah dijadikan bahan mainan, semuanya terlihat bersemangat. Sebagian besar salah mengelompokkan jenis sampah.

Jenis sampah organik diantaranya tusuk sate, ikan, kulit jeruk, daun pisang, dan kulit telur. Sedangkan anorganik misalnya kertas, besi, wadah air mineral, dan bungkus mi.

“Kertas kan organik, karena dibuat dari kayu,” sergah seorang anak pada pelatih dari PPLH Bali itu. Oleh Ketut Narta dijelaskan kertas sudah mengalami proses industri dari kayu menjadi bahan kertas sehingga dikelompokkan jadi sampah anorganik.

Anak-anak kemudian diajak berdiskusi bagaimana orang tua mereka memperlakukan sampah. Dengan riang mereka menjawab,”Sampah dibakar, dibuang ke sungai, dijual.”

Ketika ditunjukkan cara pembuatan kompos dari sampah organik, anak-anak sangat antusias. Cara pembuatannya seperti gaya permainan anak jaman dulu (medagang-dagangan) membuat mereka antusias.

Bahan yang dibutuhkan cuma tong sampah, kulit padi atau sekam sebagai peredam bau, dan air. Sayangnya, untuk jumlah sampah organik yang banyak, diperlukan mesin pemotong untuk mencacah daun-daunan atau sisa makanan lain. Pembuatan pupuk kompos hanya salah satu cara daur ulang sampah. Upaya sederhana untuk mengurangi tumpukkan sampah.

Sampah rumah tangga yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akhirnya juga akan menumpuk saja jika tidak diolah lagi. “Kalau TPA penuh, sampah dibawa ke Lapangan Renon saja,” Jennifer, anak 9 tahun menyela. Disambut tawa teman-temannya.

Sampah di seputar Kota Denpasar dibuang ke TPA Suwung, Jl Baypass Ngurah Rai. Gunung-gunung sampah setinggi hampir 10 meter dibiarkan terus meninggi. Instalasi pengolahan sampah belum sepenuhnya berfungsi. Pemilahan sampah secara rutin kini terlihat dilakukan oleh puluhan pemulung yang setia menunggu datangnya truk-truk pengangkut sampah.

Melihat kondisi itu, PPLH Bali mendidik masyarakat untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Misalnya dengan mengadvokasi masyarakat membuat pos-pos pengolahan sampah di sekitar tempat tinggalnya. “Deplot pengolahan sampah yang telah berhasil di Desa Sanur Kauh dan Sanur Kaja,” kata Armasandiasa, yang akrab dipanggil Gusman, bidang pemberdayaan masyarakat PPLH Bali.

Untuk mewujudkan deplot itu bukan perkara mudah karena kebiasaan warga yang tidak hirau dengan sampahnya sendiri. “Kami biasanya mendekati kelompok ibu-ibu. Kini di Sanur, deplot-deplot itu telah memperkerjakan 4-10 orang untuk mengumpulkan dan mengolah sampah,” kata Gusman.

Selain memenuhi undangan masyarakat yang tertarik dalam pengolahan sampah, PPLH Bali juga membuat program edukasi rutin ke sekolah tingkat dasar di Bali. Anak-anak dan remaja menjadi target pendidikan lingkungan.

“Kebiasaan orang dewasa yang tak peduli dengan lingkungan sulit diubah. Anak-anak bisa menjadi contoh perubahan dalam keluarga,” kata Ketut Mertha, salah seorang bapak yang menonton NakNik sore itu.

siapkah anda punya anak kreatif?

bismillah
punya anak yang besarnya nanti jadi orang kreatif? wah, siapa sih yang gak kepingin? tapi tunggu dulu, jangan-jangan anda nggak siap punya anak kreatif? harus banyak sabar lho...

suatu hari teman saya kedatangan tamu orang bule amerika. kebetulan bule itu bawa anak yang masih berusia 6-7 tahun. begitu masuk rumah, anak itu langsung bertanya ke ibunya, "mom, what ia that?" sambil menunjuk ke lampu antik di ruang tamu, tak berapa lama, ia bertanya ke ayahnya, "daddy, what is that?" . tak henti-henti anak itu bertanya begitu ia ingin tahu, dan orangtuanya selalu memberi jawaban dengan santai dan ekspresif.

sementara, teman saya tadi panas dingin karena pada waktu yang bersamaan, ibu dan ayahnya sedang bertandang, dan mereka berdua memegang budaya jawa yang amat teguh akan tata krama ..apalagi tata krama anak di depan orangtua!


ada pula kisah lain. kisah ini nyata dari orang yang di masa depannya adalah orang kreatif. anda kenal Jeff Bezos, CEO Amazon.com yang sampai sekarang belum ada yang mempu menyaingi kesuksesan toko buku online itu? di usianya yang masih 3 tahun, bezos masih tidur di dalam box. rupanya, Jeff sudah bosan dan ingin tempat tidur seperti orang dewasa, dan itu memang mungkin dilakukan dengan memodifikasi box tersebut. ia pun meminta ibunya untuk membongkar boxnya, tapi, karena ibunya khawatir itu akan membahayakan, maka Jeff belum mendapat izin untuk itu. tak berapa lama, sang ibu menemukan Jeff kecil dengan obeng di tangan. dia tengah membongkar box bayinya!

di masa kanak-kanak dan remaja, Jeff sibuk membuat penemuan-penemuan, dari yang konyol sampai yang canggih. dan semua penemuan itu memenuhi garasi rumah! bahkan ,saat awal-awal membuat amazon.com, Jeff membuat kantor di garasi...

dua contoh di atas adalah bagaimana anak-anak yang kreatif diasuh. bayangkan, cukup sabarkah anda menanggapi pertanyaan-pertanyaan usil anak anda? atau seperti ibu Jeff BEzos, apa respon anda saat tahu si kecil memegang obeng dan tengah membongkar tempat tidurnya? atau cukup sabarkah anda untuk merapikan garasi yang tampaknya sudah tak mungkin dirapikan saking banyaknya karya anak anda?

pendidikan di Indonesia dan pendidikan di barat memang berbeda. ada sebuah penelitian yang menyelidiki bagaimana sih harapan orang tua dan guru di Indonesia tentang anak didiknya, ternyata, ditemukan bahwa mereka cenderung mengharapkan anak yang penurut, sopan terhadap guru, duduk rap di kelas, dan berprestasi tinggi, sedngkan anak-anak yang sering protes, tidak bia duduk diam, "jail", terlalu banyak bertanya, justru tidak diharapkan. padahal, peneliti kreativitas , Cropley, menemukan bahwa anak-anak kreatif meiliki ciri lebih impulsif, tidak ingin menyamakan diri dengan anak-anak seusianya, tak terorganisir, suka mencoba pengalaman baru, dan imajinatif. ternyata, anak kreatif begitu berbeda dari apa yang diharapkan orangtua dan guru di Indonesia.

seringkali di dalam kelas guru "menandainak-anak yang kerap mengajukan pertanyaan kritis sebagai "kurang sopan" , apalagi kalau sampai menggembosi gurunya. bisa-bisa nilainya terpengaruh. para orangtua seringkali juga mengabaikan pertanyaan -pertanyaan sederhana balita kecilnya denan menunjukkan wajah yang 'indifferent' atau bahkan mengabaikan sama sekali. padahal, mungkin orangtua sama sekali tidak tahu jawaban anak. belum lagi kalau menemukan mainan anak habis diperetelinya. wah,bisa bisaorangtua marah besar sambil mengancam tak akan dibelikan mainan lagi!

memereteli mainan, mencoret-coret kasur, mengaduk-aduk gula dan mengacak-acak beras, bolehajadi merupakan pertanda bahwa anak anda sedang berproses kreatif. pda saat anak anda meemreteli, yang ada di fikirannya adalah pertanyaan "kok alat ini bisa begini ya?" maka dipuaskanlah rasa penasarannya itu dengan melakukan "operasi terima bongkar tak terima pasang". kalau memang ini yang terjadi, dampingilah anak saat ia sedang mulai meemreteli, coba bantu dia dengan menjelaskan apa yang menyebabkan mainan itu berfungsi. anggap saja, harga mainan itu adalah biaya "menyekolahkan" anak. atau, bila anda tidak tega, buat atau belilah mainan yang memang didesin untuk dibongkar pasang sesuka hati, seperti lego atau balok-balok kayu. demikian pula tindakan 'lucu' lainnya itu, harus dikelola dengan baik dan konsisten agar jangan sampai potensi kreatif anak anda hangus sebelum ia berkembang...

bila balita bicara sendiri

bismillah

apakah anda sering memperhatikan anak balita anda bicara sendiri sambil asyik 'ngulik' mainannya? atau anak anda yang baru masuk SD susah sekali diminta 'membaca dalam hati'? bila ya, tahukah anda bahwa mungkin anak anda punya intelegensi tinggi?

sebuah tim peneliti psikologi melakukan studi tentang 'private speech' anak-anak balita. 'private speech' adalah prilaku anak-anak balita yang berbicara kepada dirinya sendiri sambil mengerjakan sesuatu. ternyata, anak-anak yang melakukan 'private speech' lebih cepat dalam memahami apa yang tengah ia lakukan. misalnya, anak diberi puzzle, mereka yang menggunakan 'private speech' akan lebih cepat dalam menyelesaikan puzzlenya ketimbang yang tidak. tentu, 'private speech' disini adalah yang terkait dengan masalah yang sedang dia ingin pecahkan, bukan 'nggeremeng' tanpa tujuan.

nah, kemudian ahli lain mencoba mengaitkannya dengan intelegensi. ternyata, lagi-lagi ditemukan bahwa level intelegensi anak sebanding dengan kualitas dan kuantitas 'private speech'nya. TETAPI, yang patut para orang tua dan pengasuh waspadai adalah, pada anak setara kelas 3 SD ke atas, private speech justru mengindikasikan rendahnya tingkat intelegensi!

mengapa?

ini terjadi karena anak-anak balita memang belum mampu menginternalisasikan pikirannya dengan baik karena kapasitas pengelolaan informasi dalam otaknya yang masih terbatas. anak-anak yang menggunakan 'private speech' meringankan kerja otak dalam mengingat, memahami, dan menghubung-hubungkan sehingga lebih cepat menemukan solusi. bila anak dipaksa untuk 'jangan berisik', maka itu berarti kita menambah beban kerja otaknya untuk 'menyimpan' sehingga pekerjaan lain malah tidak maksimal.

anak di atas 7 tahun sudah mampu menginternalisasikan pikirannya, sebenarnya ia masih berbicara dengan dirinya sendiri tapi tanpa perlu melafalkannya. ciri yang seperti ini baru kita sebut dengan 'berfikir' dan oleh para peneliti psikologi ini disebut dengan 'inner speech'.

kini, anda tak perlu khawatir bahwa anak anda akan dianggap 'aneh' karena suka bicara sendiri, bahkan harusnya anda merasa lebih tenang karena anak anda ternyata aktif berfikir. sebagai orangtua, anda pun bisa melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mengetahui bagaimana sih sebenarnya cara anak anda berfikir. tentu manfaatnya akan lebih besar lagi kelak.

anak-anak lucu

bismillah

Grow...

Di tengah suasana hari H lebaran yang kerap membosankan (ups...) harus kudu ada hiburan, agar kita tetap bersemangat dan tidak sia-sia. Maksudnya hiburan, tentu sesuatu yang bisa kita nikmati, selain obrolan para orangtua tentang anak-anaknya dan rekan rekannya di masa silam yang wajahnya saja antah berantah buat kita, meski bukan berarti kita tidak bisa mengambil hikmah di baliknya. Lebaran kali ini agak lain, karena anak-anak kecil berlarian di sana sini. Entah mereka memang jumlahnya banyak hingga menarik perhatian atau...akunya aja yang lagi merhatiin. Sekurangnya ada lima anak yang memenuhi lebaran kali ini, satu darinya keponakan jauh Bayu.

Yang bikin mereka menarik buatku justru karakternya. Jujur, aku gak terlalu ingin dekat dengan anak kecil, tapi suka memperhatikan mereka. Persis kayak kucing di mataku. Seneng ngeliat, seneng ngeliat mereka bermain, seneng ngeliat mereka dibelai, tapi ogah membiarkan mereka tiduran di pangkuanku!! (kucing maksudnya). Soal anak kecil, Bayu lebih lincah ngajak mereka main, bahkan terkesan lebih enjoy, sementara aku cuman memberi support berupa cengiran! Heghhheee.... gimana toh aku ini??

Oya, aku pengen ngenalin mereka dulu. Nama mereka adalah : Najma (3 tahun), Rara (6 tahun), Harum (6 tahun), Razan (2,5 tahun), dan Buldan (3 tahun) . Razan dan Buldan tuh cowok, lainnya cewek... seperti disebutkan di awal, karakter mereka beda-beda, untuk sementara, karena gak punya referensi tentang psikologi perkembangan anak, jadi aku pake intuisi aja sebagai perempuan, perbedaan karakter ini boleh jadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan bagaimana perlakuan orangtua mereka. Kalo coba dibahas satu satu....

Najma dan Rara
nah, yang ini dibahas bareng karena mereka emang kaka adek. Kulitnya putih-putih dan seger-seger....mungkin gak nyangka akalo mereka tinggal di rumah petak. Rumah petak? Yup! Sebenernya bukan karena mereka miskin, karena sandang dan pangan mereka terpenuhi dengan baik. Juga pendidikan dan rekreasi. Ruang tamu sederhana merekapun dipajangi rak buku yang penuh dengan berbagai jenis buku. Tapi, harap dimaklumi, mereka tinggal di daerah sub-Urban yang padat dan segala mahal. Ayahnya bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan ibunya penuh menjaga mereka di rumah. Yang besar, Rara, fotogenik dan senang difoto. Maklumlah, sebelum nikah ayahnya memang fotografer lepas. Karena masih lajang, jadi rada “boros” sama hobbynya. Bahkan dia punya kamera manual yang lumayan (aku nggak tau apa istilahnya) yang jelas, sampe sekarangpun masih sering kepake buat acara pernikahan. Waktu punya anak pertama, jadi korban deh. Rara sekarang sudah kelas 1 SD. Ia sekolah di SDIT yang jam belajarnya jauh lebih banyak dibanding sekolah negeri biasa. Kemampuan kognitifnya lumayan juga, mungkin karena waktu kecil memang sudah sering dicekoki bacaan oleh ayah ibunya. Karena sudah beranjak besar dan punya adik, Rara telrihat lebih bertanggung jawab dan “kalem”. Adiknya Najma, sering kami sebut sebagai “preman”. Tomboy dan keras. Setiap kali main ke rumah kami, beberapa kali ia menunjukkan prilaku penuh kekerasan (wow...bahasanya). contohnya, aku pernah tau tau kena jitak tanpa sebab! (hiks...) apalagi kalo lagi kepengen. Dia gak cengeng, ya... malah bikin anak lan nangis. Kalau ada yang mau keluar rumah buat beli apaa dan diajak, pasti pengennya ngikut, padahal cuman pake kaos dalem sama celana dalem!. Kakak adik ini punya kesamaan. Dua-duanya kalau bicara lantang (well...imagine kompleks rumah petak dimana orang biasa berteriakan satu sama lain), dan gak malu-malu, friendly. Trus, mereka suka nyanyi. Jaman sekarang lagunya bukan “aku adalah anak gembala” seperti waktu ada tasya dulu. Tapi “lelaki buaya dalat, bucet aku teltipu lagi!!!” atau... “bang, sms siapa ini baaang!”. Najma yang masih cadel kerap menyanyikannya sedang rara yang sudah bisa menulis bahkan menuliskan teks lagu lengkapnya di selembar kertas. Ibunya mengaku pusing mengontrol kata-kata Najma, namanya juga anak kecil, meski di rumah disetel lagu anak-anak dan video edukatif, tetap saja stereo tetangga yang gak kenal tembok kedengaran keluar, jadilah semua lagu-lagu dewasa terdengar oleh anak-anak. Di rumah, tontonan mungkin selektif, tapi di rumah tetangga siapa tau? Tau tau mereka dah bisa nyanyi lagu Ratu tanpa tahu artinya. Tapi, untungnya mereka tinggal di rumah petak ialah akrab dengan tetangga, Najma bahkan sering disuapi makan tetanggnya, jadi gak heran kalau mereka cukup friendly, dan kalau bertemu anak sebayanya cepat menyesuaikan diri dan langsung bermain bersama tak peduli lelaki atau perempuan.....


Buldan...
Pertama dengar namanya, unik, nama lengkapnya Buldani Sholehuddin. Yang ini keponakan jauhnya Bayu. Dia tinggal di Wanayasa, sebuah tempat di dekat Purwakarta yang terbilang masih “alami”. Banyak sawah, kolam, dan danaunyapun terawat. Buuldan tinggal di perkampungan yang masih “tradisional”: orang-orangnya akrab satu sama lain, senang menjamu, dan rumah-rumah masih punya pekarangan. Ayahnya berwiraswasta, sedangkan ibunya guru agama di SMP. Ia tinggal bersebelahan dengan kakek neneknya yang memiliki beberapa luasan tanah sawah. Buldan ini anaknya luar biasa lincah, dan sorot matanya cerdas (liat deh...ya toh??). ia juga punya kepribadian dominan sehingga tak heran kalau dipanggil “bos” oleh teman teman sebayanya. Untungnya hidup di kampung yang masih alami adalah pengalaman Buldan yang mungkin akan sangat langka didapat anak-anak kota. Ia biasa bermain di sawah bersama kakeknya, memancing ikan di “balong”, menyaksikan orang-orang menyembelih ayam atau kambing. Ia juga tak kenal batas pagar seperti anak-anak yang tinggal di kota. Ia tak perlu takut ada mobil lewat, tak perlu takut terjatuh di selokan besar yang kotor, karena tak ada hal-hal seperti itu disana. Bahkan ia tak perlu takut berloncatan di pagar, karena paling hanya terjatuh di tanah atau rumput yang empuk, meski lecet. Oya, dia juga senang sekali difoto, pasti langsung bergaya, meski sedang menangis sekalipun!! Anaknya boleh dibilang sangat confident. Tapi, yang namanya anak-anak, kata-kata kotor kerap berloncatan dari bibirnya, seperti lingkungan mengajarkannya..misalnya (sorry) tai, kentut, goblog.... tentu lagi-lagi ini pengaruh dari teman-temannya yang lebih besar. Seperti Rara dan Najma di rumah , iapun disuguhi berbagai kaset dan video islami, meski video edukatif masih jarang didapat disana, tontonan juga dikontrol. Tetapi, mungkin tidak seperti Najma yang langsung menirukan lagu ratu, Buldan tidak terimbas tren tersebut, mungkin, karena kesehariannya dipenuhi aktivitas fisik yang sesuai dengan perkembangannya, sehingga waktu untuk menonton akan sangat berkurang.

Harum
Anak perempuan ini baru duduk di kelas 1 SD. Tapi, bagaimana ia bicara justru kadang-kadang seperti gadis remaja saja. Awalnya ia tinggal di Palembang, kemudian hijrah ke Jakarta. Ayahnya bekerja di bidang perhotelan dan ibunya mengurus rumah tangga sepenuhnya setelah sebelumnya juga bekerja di perhotelan. Di Palembang, keluarganya kerap berpindah tempat tinggal, menginap di hotel berbintang juga bukan barang aneh baginya karena kemana ayahnya pergi untuk tugas, pasti mereka diberi fasilitas kamar hotel untuk menginap. Ia sangat dekat dengan ibunya, bahkan ibunya kerap curhat ke anak kecil ini. tentu bukan hal yang rumit-rumit, hal-hal rumah tangga saja, misalnya bagaimana ibunya mengajaknya merawat ayahnya waktu sakit, bagaiman ibunya meminta pengertiannya saat sedang “ngidam” adiknya. Mungkin juga, ia menjadi demikian karena Seringnya ia melihat lingkungan “orang dewasa” baik itu di hotel-hotel maupun lingkungan kedua orang tuanya. Ciri khas dari anak ini ialah, apabila ia melakukan sesuatu yang “tidak biasa”, misalnya bagaimana ia berangkat sendiri ke sekolah, selain sekadar bangga karena bisa, juga kerap menunjukkan kebanggaannya karena telah meringankan ibunya yang punya adik kecil. Tapi, lagi-lagi ia hanya anak kecil, seperti anak-anak lainnya iapun berlarian kesana kemari saat bermain dengan rekan sebayanya. Jadi, orientasi anak ini bukan sekadar kepuasan pribadi, tapi kebanggaan karena sudah berbuat sesuatu untuk orangtuanya.

Razan
Keluargaku biasa menyebutnya “cowok manis”. Ia menghabiskan masa kecil di kalimantan. Ayahnya pegawai swasta, ibunya tinggal di rumah sepenuhnya mengurusi rumah tangga sejak melahirkan Razan. Ayahnya telah cukup lama bekerja sehingga bisa dibilang gaya hidupnya telah cukup stabil. Karakter ibunya bisa dibilang cukup protektif, sedang ayahnya juga protektif namun tidak sepenuh ibunya. Mereka selalu tinggal di dalam komplek perumahan menengah, pun pada saat mereka mencari kontrakan di bekasi. Razan besar di lingkungan perumahan Kalimantan yang meskipun budaya perkotaannya cukup lekat, namun anak-anak besar dalam arus pop yang tidak deras, tidak seperti Najma. Razan dipengaruhi secara dominan oleh budaya rumah. Meski kata-kata maupun kelakuan bandel kerap dilakukan, tapi Razan hampir tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor –mungkin tak pernah mendengarnya-, Razan juga hampir tidak pernah melakukan kekerasan fisik seperti memukul. Bahkan, pernah juga ia hanya duduk diam menatap pepohonan, waktu ditanya ngapain, dia bilang cari angin, untuk ukuran anak- laki-laki yang biasanya agresif, tentu dia unik. Intinya kebandelan Razan sangat wajar, mungkin Razan dapat dikatakan mewakili anak-anak yang besar di lingkungan urban menengah.

....

Lucu-lucu juga liat karakter yang berbeda-beda ini. gak tau ya apa bener-bener ngaruh kepada kepribadiannya di waktu dewasa. Tapi, minimal, bagaimana mereka dididik oleh orangtua dan lingkungan bermainnya tentu akan membentuk karakter dasar mereka kelak ketika dewasa kelak.... huaaah, mudah-mudahan anak gue entar shalih/shalihah....biarpun mungkin ngedidiknya entar kami bakal gak ideal (lho...seenaknya dech!)

....

Pabuaran, november 2006

18.12.08

triangular love sternberg

bismillah

sternberg adalah salah satu ahli psikologi pavorit aye... dan kebetulan dari milis ada nih yang rada lucu, tapi yang udah nikah baru ngerti deh kayaknya.!! hehehe


Segitiga Cinta

Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa pasangannya enak diajak bicara. Ada yang bilang pasangannya sangat perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya. Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy. Ada yang bilang pasangannya pandai melucu. Ada yang bilang pasangannya pandai memasak. Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua. Pendek kata kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.

Ada banyak alasan pula untuk bercerai. Ada yang bilang pasangannya judes, bila diajak bicara cenderung emosional. Ada yang bilang pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada orang-orang di rumah yang setia menunggu. Ada yang bilang pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi. Ada yang bilang pasangannya kurang menggairahkan. Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara. Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu asing atau terlalu manis. Ada yang bilang pasangannya tidak dapat mengambil hati mertuanya. Pendek kata kebanyakan orang bilang bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.

Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan dalam kecocokan. Dr. Paul Gunadi menyebut kecocokan-kecocokan diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok 
setelah mereka menikah.

Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya mereka pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh, pada waktu pacaran dua sejoli akan saling memperhatikan, saling mendahulukan satu dengan yang lain, saling menghargai, saling mencintai. Lalu apa yang dapat menjadi pengikat yang mampu terus mempertahankan sebuah pernikahan, bila kecocokan-kecocokan itu tidak ada lagi? Jawabannya adalah KOMITMEN.

Seorang kawan saya di Surabaya membuat sebuah penelitian, perilaku selingkuh kaum adam pada waktu mereka dinas luar kota dan jauh dari 
anak/isterinya. Apa yang membuat pria-pria tersebut selingkuh tidak perlu dijabarkan lagi. Tetapi apa yang membuat pria-pria tersebut bertahan untuk tidak selingkuh? Jawaban dari penelitian tersebut sama dengan diatas yaitu : KOMITMEN.

Hanya komitmen yang kuat mampu menahan gelombang godaan dunia modern pada waktu seorang pria berada jauh dari keluarganya. Begitu pula 
sebaliknya, pada kasus wanita yang berselingkuh.

Komitmen adalah sebagian dari cinta dalam definisi seorang psikolog kenamaan bernama Sternberg. Dia menyebutnya sebagai "triangular love" 
atau segitiga cinta dimana ketiga sudutnya berisi: Intimacy (keintiman), Passion (gairah) dan Commitment (komitmen). Sebuah cinta yang lengkap dalam sebuah rumah tangga selayaknya memiliki ketiga hal diatas.

Intimacy atau keintiman adalah perasaan dekat, enak, nyaman, ada ikatan satu dengan yang lainnya.

Passion atau gairah adalah perasaan romantis, ketertarikan secara fisik dan seksual dan berbagai macam perasaan hangat antar pasangan.

Commitment atau komitmen adalah sebuah keputusan final bahwa seseorang akan mencintai pasangannya dan akan terus memelihara cinta tersebut "until the death do us apart".

Itulah segitiga cinta karya Sternberg yang cukup masuk akal untuk dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Bila sebuat relasi kehilangan
salah satu atau lebih dari 3 unsur diatas, maka relasi itu tidak dapat dikatakan sebagai cinta yang lengkap dalam konteks hubungan suami dan
isteri, melainkan akan menjadi bentuk-bentuk cinta yang berbeda.

Sebagai contoh :

Bila sebuah relasi hanya berisi intimacy dan commitment saja, maka relasi seperti ini biasa disebut sebagai persahabatan.

Bila sebuah relasi hanya bersisi passion dan intimacy saja tanpa commitment, maka ia biasa disebut sebagai kumpul kebo.

Bila sebuah relasi hanya mengandung passion saja tanpa intimacy dan commitment, maka ia biasa disebut sebagai infatuation (tergila-gila)

Intinya adalah jika ingin membuat hubungan menjadi lebih baik tanamkan dalam hati tentang arti commitment yang sebenarnya. Itulah arti cinta yang sebenarnya.

Enriching Our Little Children

bismillah

Dalam bab ini dibahas apa saja yang dapat memperkaya otak sejak dini. Otak manusia sangatlah fleksibel sehingga  mengusahakan agar seorang anak memulai dengan langkah awal yang baik akan membuat kehidupannya jauh lebih mudah di kemudian hari. Terdapat tujuh kunci emas pengayaan otak anak yang akan dijabarkan secara singkat satu per satu.

Kegiatan fisik

Riset menunjukkan bahwa anak-anak dengan rasa ingin tahu dan mencari petualangan-petualangan dan pengalaman-pengalaman baru di usia tiga tahun, pada dasarnya akan memiliki IQ tinggi saat mereka memasuki masa pra-remaja (Raine, et.al, 2002) usahakan menciptakan kondisi yang aman, banyak, dan aktif bagi eksplorasi anak, seterbatas apapun keadaan ekonomi. Pastikan bahwa anak mendapat banyak hal baru yang melibatkan semua panca indera, menarik, dan pendidik/orangtua harus memberi respon emosional yang sesuai.

Pembelajaran yang baru,menantang, dan penuh arti

Otak anak 0 hingga 5 tahun dirancang untuk belajar. Mereka belajar dengan cepat dan kita tak bisa menghentikannya. Ada dua tipe pembelajaran yang akan menjadi fokus perhatian yakni : penyesuaian dan belajar formal lewat mainan dan permainan.

Penyesuaian

Proses penyesuaian adalah pembelajaran dari tanggapan-tanggapan emosional yang tepat. Keterikatan emosi yang sehat dan dini, terutama pada 24 bulan pertama akan membentuk dan mengembangkan keterampilan sosial yang mendasar untuk kehidupan (siegel,1999) berikut adalah contoh sikap-sikap penyesuaian yang dianggap berharga oleh anak-anak yang sangat muda: reaksi-reaksi emosi, menirukan wajah, permainan tangan secara bergiliran, dan menirukan tindakan.

Anak mengetahui tekanan emosi mana untuk setiap emosi yang dihadapi dengan menirukan ekspresi orang dewasa. Otak harus belajar bagaimana mengekspresikan emosi-emosi. Karena itu,  para orangtua harus meluangkan waktu untuk mengembangkan emosi saling memberi dan menerima apabila mereka menginginkan anak-anak yang sehat secara emosional dan sosial

Belajar dengan mainan dan permainan

Yang harus diperhatikan adalah, anak memerlukan :

Sesuatu yang dilakukannya, bukan melihat mainan melakukannya

Sesuatu yang dapat dibunyikannya, bukan mendengarkan bunyi-bunyian yang telah dibuat sebelumnya

Sesuatu yang dapat dibuat dan dimodifikasi olehnya, bukan sekadar dipegang

Bagian-bagian yang dapat dirakit, dilepas, dan dirakit kembali, bukan barang-barang yang kemudian rusak

Kerumitan yang logis

Dari usia 2`hingga`4`tahun , fungsi-fungsi kognitif yang penting termasuk pembelajaran bunyi huruf, abjad, dan paparan kosa kata yang lebih banyak. Di dalam kehidupan seorang anak, bagian paling kompeks dari lingkungannya adalah bahasa.  Perkembangan bahasa terutama dirangsang oleh kegiatan-kegiatan seperti :Mendengar jutaan kata, mendengar keseluruhan kalimat, malihat kata-kata seraya mendengar bunyinya, berbicara, dan membuat identifikasi spesifik.

Ketika bersama dengan anak-anak yang masih sangat muda, bicaralah sesering mungkin. Berbicaralan dengan jelas. Gunakan kalimat-kalimat yang penuh dan sempurna. Ajukan pertanyaan pertanyaan dan menunggulah dengan sabar untuk mendapat jawaban. Hindari ‘menyalakkan’ satu atau dua kata perintah.

Tingkat stres yang terkendali

Anak-anak sama sekali tidak mampu mengatur perubahan-perubahan sembari otak mereka menyerap dunia. satu sampai lima tahun pertama dalam kehidupan, lobus frontal belum dewasa, tapi sangat reseptif. Anak-anak menghabiskan waktu terjaga dalam kondisi theta, sebuah tingkat kegiatan ideal untuk mrnyerap- dan bukannya mengevaluasi—informasi tentang dunia. ibaratnya, mereka sedang men”download” budaya. “download” terburuk dari kultur ialah trauma yang berkaitan dengan kekerasan, tekanan, kata-kata yang kasar, kurangnya rasa hormat, dan contoh-contoh peran yang buruk.

Strategi yang dapat`dilakukan adalah hindari sebanyak mungkin hal-hal yang membuat anak tertekan. Ingatlah bahwa anak-anak tidak dapat mengatasi tekanan dengan baik. Pada lima tahun pertama, sebisa mungkin jangan dekatkan anak pada hiburan elektronik di rumah, karena ini adalah penyia-nyiaan otak yang sedang bertumbuh. Lebih baik mencari anak-anak lain untuk bermain bersama anak anda dan menyediakan rumah yang aman untuk mereka bermain sehingga mereka dapat leluasa bermain dengan pengawasan yang sedikit

Dukungan sosial

Otak anak-anak belum dewasa, dan tidak ada cara di dunia ini yang bisa membuat mereka faham etiket, keselamatan, atau sebab akibat dari prilaku sosial atau sekadar kenakalan semata. Anak-anak sangat rentan terhadap stres, trauma, prilaku kejam, dan tekanan.aetiap tindakan, ucapan, dan disiplin yang orang tua terapkan akan ditiru oleh anak. Anak anda sedang belajar bersikap adil atau curang, sayang atau jahat, dan bagaimana memaafkan dan mendendam. Semua tergantung bagaimana orangtua bersikap. Sebenarnya anda tengah mengajarkan anak ada bagaimana menjadi orangtua.

Katakanlah hal hal positif melalui perayaan. Saat anak melakukan sebuah tugas, rayakanlah dengan senyuman, tepukn tangan, dan ungkapan kebahagiaan. Jadilah orang tua yang anda ingin anak anda menjadi seorang tua yang seperti itu kelak. Setiap hari, praktekkanlah sikap mencintai, mendorong, menerima, dan sabar

Nutrisi yang baik

Nutrisi yang lebih besar, terutama protein,ternyata lebih besar pengaruhnya daripada SES dalam mengukir prestasi. Pastikan bahwa anak anda mendapat protein yan cukup dan seimbang, kemudian pastikan adanya mikronutrien yang cukup (termasuk iodin, zat besi, zinc, dan vitamin B-12)

Waktu yang cukup

Hindari menjejalkan kegiatan kegiatan berkecepatan tinggi setiap hari pada waktu anak anda tidak tidur. Adalah hal yang dapat diterima membiarkan si anak sekadar duduk, istirahat, mengamati, mengeksplorasi, dan tidur siang. Temukan keseimbangan antara kegiatan yang dipandu dengan waktu tenang. Bahkan lebih dari orang dewasa, anak-anak perlu untuk mengkonsolidasi pencapaian mereka dan menemukan penggunaan-penggunaannya yang berharga bagi mereka pribadi.

enriching the brain, parents! you should read this book!


bismillah

abis dapet tugas bikin resume buku ini.... cakep lho isinya, kita bisa berdecak decak dan kaget, dan akhirnya, sangat layak mengkoreksi diri, terutama cara pengasuhan yang kita lakukan terhadap anak-anak kita... jadi aku postingin aja yah tugas aku satu satu..:)

Otak adalah pusat kehidupan manusia. Berfikir, mengindera, merasa, bahkan sampai tidur, semua adalah kerja otak. Buku ini mengungkap paradigma baru dalam memahami kinerja otak manusia dan bagaimana ternyata kita dapat memaksimalkan potensinya dengan menyediakan lingkungan yang memperkaya. Jensen seperti menggelitik pemikiran lama kita tentang otak –yang sering orang Indonesia anggap sudah ‘dari sononya begitu’--dan meyakinkan bahwa itu hanyalah mitos belaka dengan mengungkap penelitian-penelitian mutakhir tentang itu. Sayangnya, justru mitos itulah yang kita kenal dan secara tak sadar mempengaruhi cara kita memandang sesuatu, bahkan memandang bagaimana hidup kita –dan anak-anak kita -- harus dijalani.

Buku ini penting bagi para orangtua maupun orang-orang yang peduli akan pendidikan anak-anak karena selain menawarkan paradigma baru, buku ini juga secara teknis menjabarkan bagaimana menyediakan lingkungan yang memperkaya sehingga otak anak-anak bisa mendapat kesempatan untuk berkembang lebih baik, yang secara langsung berarti ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih bermakna.

Buku ini terdiri dari 10 Bab, Bab pertama dan kedua mengajak kita untuk membetulkan mitos-mitos yang keliru, bahkan berbahaya tentang otak yang justru dapat menghambat keinginan pelajar untuk membangun kapasitasnya. Bab ketiga menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana memperkaya otak. Bab ke empat menjelaskan otak yang bertumbuh, dari lahir sampai usia sekolah. Pembaca akan menemukan apa memperkaya bagi setiap usia dan bagaimana memaksimalkan potensi anak dengan mempelajari resiko dan strategi intervensi yang dapat dilakukan.

Bagian berikutnya bicara tentang anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan kesempatan untuk memperkaya otaknya, dengan cara yang khusus pula. Bab ke enam mengeksplorasi otak dalam spektrum kehususan yang lain, anak-anak berbakat. Menjawab pertanyaan “apakah otak anak berbakat benar-benar berbeda dari yang lain?”. Bab-bab berikutnya akan membawa kita ke ranah praktis. Bagaimana menyediakan lingkungan yang memperkaya otak mulai dari kebijakan sampai contoh-contoh program sekolah yang telah berusaha secara maksimal menerapkannya . sebagaimana dapat diduga, orangtua memiliki peran penting dalam hal ini. Di Bab 9 dikupas secara mendetail bagaimana orangtua memformulasikan lingkungan yang memperkaya otak anak-anaknya, terutama di usia dini, disertai tips-tips yang akan dapat dilakukan oleh orangtua mana saja, tanpa perlu biaya besar. kemudian terakhir penulis mengikat teori dan praktik yang telah dibahas dan menguatkan perlunya beralih dari “deficit-based model” ke “enrichment-based model” dimana sekolah dan staf-stafnya berkomitmen pada prinsip untuk membesarkan, menumbuhkan dan memaksimalkan potensi manusia. Akhirnya, penulis mengikhtisarkan semua dalam kesimpulan dan membuat rekomendasi untuk ke depan.

3.11.08

OFFICIAL T-SHIRT PESTABLOGGER08

Pestablogger08 akan digelar tanggal 22 November 2008 di Gedung BPPT. Pestablogger08 menawarkan Official T-shirt Pestablogger08. Berminat? Caranya mudah, silahkan ikuti petunjuk di bawah ini. Info dapat di lihat juga di pestablogger.com


















INFO PRODUK
Bahan: Katun Combed 20s,  
Sablon: Rubber quaret GL, 
Timbul Ukuran: All-Size (tinggi 74 CM, lebar 52 CM) 
Warna: Putih, Biru baby, & Abu muda. 
Teknik Jahit: Model Rantai 
Produksi di Pabrik C59


HARGA

@ Rp.57.500,- 

Bila membeli 5 buah ke atas, diskon menjadi @ Rp. 55.000,-, 

Ongkos kirim ditanggung pembeli 

(pengiriman dari Jakarta melalui tikijne


CARA PEMESANAN

kirimkan e-mail ke bayusyerli@gmail.com dengan menyertakan data-data sbb :

Nama asli dan lengkap:

Alamat lengkap (harus sertakan kode pos):

No HP (harus yg aktif):

E-mail :

Warna Baju :

Jumlah pemesanan :


PENGIRIMAN
Pengiriman dilakukan dari Jakarta, biaya silahkan liat disini


Semoga Cocok!!

24.8.08

kulpet

bismillah

alhamdulillah taun ini memulai lagi langkah akademik, hehe..alias kuliah lagi. suatu sore sempat berkenalan dengan anak muda mahasiswa s1 di UI. anaknya lincah dan cerewet,nanya ini itu, mulai interogasi "apa gak panas pake jilbab" sampe tepuk tangan waktu tau s1 di ITB dan s2 di UI. (dalem ati cuman nyenyes...belum tau dia..hehehe)
kuliah kali ini memang rada "ajaib", karena dari itung itungan di atas kertas, begitu banyak "ketidakmungkinan". mulai dari kondisi fisik, saat ini sedang hamil 8 bulan! which means in a month rashif will have a new sister! harus PP cibinong-depok yang waktu tempuhnya sejam, setiap hari kul (katanya), rashif baru 1 1/2 taun...
secara finansial, banyak kejadian yang mengharuskan keluarnya dana besar, sedangkan kuliah s2 mahal dan belum bisa dapet beasiswa;D duh jadi aja balik-balik beaortu+suami.

sebelumnya, tiap hari cuman bisa istikhoroh, kul engga, kul engga...
dan akhirnya...

ngerasain juga jadi "mahasiswa". maksudku, dulu waktu S1 bisa dibilang, "hidup sejahtera". mau makan apa, mau jajan apa, mau beli buku apa...mangga weh...bahkan bisa dibilang aku jarang buanget ke perpus buat pinjem buku. buku2 s1 aku sekarang udah ada di tangan kedua dan ketiga...entah kemana maksudnya...hehe...
sekarang, kudu super iritt...kayaknya 1000 sayang banget buat dijajanin permen, haha. jadi lebih rela bolak balik perpus, bahkan ngerental komputer karena paas kompie di rumah mogok. dan lagi gak sungkan juga bolak balik mahalum buat urusan pembayaran. inilah kulpet (kuliah dalam kemepetan..haha)

jadi inget teman teman dulu, berjuang keras buat tetep kuliah........

di rumah, gak lagi deh bisa nyantey. selain masih banyak tugas menanti, ada rashif yang ... well one day, dia begitu rewel, tyt cuman minta dipeluk dalam gendongan... ya...children, kadang kala mereka sangaaaat memusingkan, atapi lebih sering, mereka jadi obat hati

yah...mudah mudahan....semua ini menuju jalan yang berkah...manfaat yang jauh lebih banyak...ridho ALlah yang jauh lebih besar..

doain ya